Muhammad Fadhlillah Rasyid Portfolio
Digital Marketing
Sebagai advertiser di Leslim Store (UMKM fashion wanita), aku memecahkan anomali klasik Meta Ads: omset anjlok tajam di bulan ke-4 padahal Cost Per Lead (CPL) tetap murah. Masalahnya bukan pada algoritma, melainkan ad fatigue dan Landing Page yang gagal mengonversi cold traffic. Studi kasus ini mendokumentasikan caraku membedah kebocoran funnel, memutus ilusi vanity metrics, dan merombak infrastruktur campaign untuk mengembalikan stabilitas profit bisnis.
Rp 7.000
40%
5 Bulan

Tantangan
3 IssuesAudience Saturation & Ad Fatigue.
Penetrasi agresif di 3 bulan pertama menguras habis 'warm audience'. Iklan mulai menjangkau cold audience yang kebal terhadap angle promosi lama, memicu penurunan konversi secara drastis.
Ilusi Vanity Metrics & Keterbatasan Eksekusi.
CPL yang stagnan di angka Rp 7.000 menipu mata, padahal yang ditarik adalah low-intent traffic yang merusak Closing Rate. Ketiadaan sistem cut-loss yang cepat membuat budget bocor sia-sia tiap jamnya.
Mismatch Funnel pada Cold Traffic.
Landing page yang ada memang informatif secara katalog, namun terlalu kaku dan minim elemen persuasif (urgency, problem-agitation) untuk meyakinkan audiens baru yang belum punya trust terhadap brand.
Strategi
3 AppliedInterest Expansion via Adsumo.
Untuk keluar dari jebakan audiens jenuh, aku menggunakan fitur riset interest dari Adsumo. Meski fiturnya tergolong basic, ini cukup ampuh untuk menemukan irisan 'hidden interest' baru yang belum tergarap kompetitor, memberikan nafas baru bagi campaign prospecting.
Implementasi Basic Automation Rules.
Menghadapi fluktuasi kualitas lead, aku memanfaatkan fitur automation Adsumo. Walau tidak se-advanced rule di platform enterprise, setup 'auto-pause' sederhana pada adset dengan CPL murah tapi nol Add-to-Cart terbukti efektif menghentikan kebocoran budget saat aku tidak memantau dashboard.
Redefinisi LP & Segmentasi Intent.
Mengubah struktur Landing Page menjadi 'sales machine' dengan angle masalah-solusi emosional. Di level Meta, aku memisahkan struktur campaign secara tegas antara cold traffic (edukasi/awareness) dan warm traffic (hard-sell/retargeting).
Industry
Timeline Project
Onboarding & Skalasi Awal. Setting infrastruktur tracking, testing winning campaign, dan berhasil menekan Cost Per Lead (CPL) hingga rata-rata Rp 7.000.
Masa Keemasan. Iklan stabil, Closing Rate tembus hingga 40%. Penjualan meroket selama tiga bulan berturut-turut karena penetrasi audiens yang tepat sasaran.
Fase Kritis & Ad Fatigue. Memasuki bulan ke-4, omset drop drastis. CPL tetap murah, namun kualitas lead menurun tajam. Menghabiskan waktu beberapa minggu untuk A/B testing metode baru.
Diagnosa & Pivot. Menemukan akar masalah pada intent mismatch. Melakukan audit komprehensif pada Landing Page yang ternyata terlalu kaku untuk mengkonversi cold audience.
Tool & Platform





Project Screenshot

Performance Results
Traffic Intent Shift
Korelasi Lead Volume vs Closing Rate (Ilustrasi Penurunan Kualitas Traffic)
Strategi Impact
3 ResultsTraffic Intent Distribution
Alokasi Budget berdasarkan Temperatur Audiens
Related Projects

Strategi Full-Funnel: Skalasi Revenue Berkelanjutan Brand Colusmen
Ouzenmart adalah pemain kunci di industri e-commerce health & beauty, dengan Colusmen sebagai ujung tombak yang mendominasi ceruk male grooming Indonesia. Selama lima tahun, kami merancang dan mengeksekusi sistem pemasaran digital full-funnel yang adaptif terhadap disrupsi platform dan pergeseran perilaku konsumen.

Dominasi Market Produk Wanita: Skalasi ROI Lewat Eksekusi Full-Funnel
Sebagai motor penggerak di balik Ouzenmart, kami membawa brand Colis menembus red-ocean market beauty & skincare wanita di Indonesia. Selama 5 tahun, kami tidak sekadar menjalankan iklan; kami membangun arsitektur full-funnel yang tahan banting mempertahankan ROAS dan menekan CAC bahkan saat dihantam badai perubahan policy Meta Ads maupun pergeseran algoritma platform.

Bottom-Funnel Recovery untuk Suplemen Herbal Mata
Eyecenter.id masuk ke mejaku dengan masalah yang sebenernya cukup klasik campaign-nya jalan, CPL-nya murah, tapi closing-nya gak kemana-mana. Produknya suplemen herbal untuk mata, target pasarnya ada, dan iklannya udah nemu winning creative. Masalahnya justru di situ: terlalu nyaman sama yang udah winning sampai lupa bahwa audiens itu bisa jenuh. Skalanya mandek, tiap horizontal scaling malah ada campaign yang rusak, dan landing page-nya panjang banget bukan panjang yang informatif, tapi panjang yang bikin orang capek duluan sebelum baca sampai bawah.
