Muhammad Fadhlillah Rasyid Portfolio
Digital Marketing
Comfywear itu tantangan yang berbeda dari Eyecenter. Kalau Eyecenter masalahnya di optimasi, Comfywear masalahnya lebih fundamental brand-nya belum dikenal, dan produknya bersaing langsung di segmen yang sudah dikuasai pemain besar. Produknya mirip Leslim, kemungkinan besar satu produsen beda label, tapi awareness-nya beda jauh. Aku masuk dengan budget yang dibatasi, tanpa winning creative, dan harus mulai dari nol cari angle yang works, cari audiens yang tepat, sambil tetap jaga pengeluaran. Tiga bulan yang lumayan menguras pikiran.
Rp 12.000
3 Bulan
20+

Tantangan
3 IssuesBrand Belum Punya Trust, Produk Sudah Harus Bersaing.
Leslim udah punya awareness organik yang kuat. Comfywear masuk ke pasar yang sama tapi tanpa nama iklan harus kerja dua kali lebih keras untuk hal yang sama.
A/B Testing Panjang dengan Budget Terbatas.
Cari winning concept itu butuh data, dan data butuh budget. Masalahnya budget-nya dibatasi, jadi tiap keputusan testing harus lebih hati-hati dari biasanya. Salah alokasi di minggu awal bisa buang momentum sebulan.
Ad Account Sering Restricted.
Ini shared challenge sama Eyecenter satu ad account untuk dua brand, dan tiap kena restrict semua campaign ikut terdampak. Tanpa automation rule yang proper, recovery-nya makan waktu dan energi.
Strategi
3 AppliedBenchmark Ketat ke Kompetitor.
Daripada reinvent the wheel, aku pelajari dulu apa yang Leslim dan kompetitor sejenis lakukan di iklan mereka. Bukan untuk ditiru, tapi untuk cari celah angle yang belum mereka sentuh.
Testing Framework yang Lebih Efisien.
Dengan budget terbatas, aku tidak bisa test segalanya sekaligus. Aku prioritaskan variable yang paling berpengaruh dulu angle creative baru setelah itu audiens dan format. Ini yang bikin budget tidak habis sia-sia di awal.
Pisah Monitoring Eyecenter dan Comfywear.
Meski satu ad account, aku buat jadwal monitoring terpisah untuk dua brand ini supaya perhatian tidak terbagi dan potensi restricted bisa ditangkap lebih cepat.
Industry
Timeline Project
Audit brand positioning dan kompetitor. Leslim jadi benchmark utama. Identifikasi gap: Comfywear belum punya brand story yang kuat dan belum pernah serius diuji di Meta.
Jalankan multiple creative dengan angle berbeda comfort, lifestyle, value for money, testimoni. Budget diketat ketat karena ruang eksperimen terbatas. Belum nemu yang consistently perform.
Dari semua angle yang ditest, mulai kelihatan mana yang paling tidak buruk. Fokus dialihkan ke 2-3 creative terkuat, audience di-narrow, dan struktur campaign disederhanakan.
Campaign mulai jalan lebih stabil meski belum ketemu winning concept yang bener-bener breakthrough. CPL mulai turun, volume lead naik pelan. Fondasi untuk scale sudah lebih jelas arahnya.
Tool & Platform




Project Screenshot


Tidak Ada Gambar Lagi
Screenshot Tidak Tersedia
Performance Results
CPL Progress & Lead Volume
Tren CPL vs Lead Volume selama fase testing 2022
Strategi Impact
3 ResultsCreative Angle Distribution
Sebaran Budget Testing Berdasarkan Angle Creative
Related Projects

Strategi Full-Funnel: Skalasi Revenue Berkelanjutan Brand Colusmen
Ouzenmart adalah pemain kunci di industri e-commerce health & beauty, dengan Colusmen sebagai ujung tombak yang mendominasi ceruk male grooming Indonesia. Selama lima tahun, kami merancang dan mengeksekusi sistem pemasaran digital full-funnel yang adaptif terhadap disrupsi platform dan pergeseran perilaku konsumen.

Analisa Bottleneck Funnel Menjaga Profitabilitas Brand Leslim di Meta Ads
Sebagai advertiser di Leslim Store (UMKM fashion wanita), aku memecahkan anomali klasik Meta Ads: omset anjlok tajam di bulan ke-4 padahal Cost Per Lead (CPL) tetap murah. Masalahnya bukan pada algoritma, melainkan ad fatigue dan Landing Page yang gagal mengonversi cold traffic. Studi kasus ini mendokumentasikan caraku membedah kebocoran funnel, memutus ilusi vanity metrics, dan merombak infrastruktur campaign untuk mengembalikan stabilitas profit bisnis.

Bottom-Funnel Recovery untuk Suplemen Herbal Mata
Eyecenter.id masuk ke mejaku dengan masalah yang sebenernya cukup klasik campaign-nya jalan, CPL-nya murah, tapi closing-nya gak kemana-mana. Produknya suplemen herbal untuk mata, target pasarnya ada, dan iklannya udah nemu winning creative. Masalahnya justru di situ: terlalu nyaman sama yang udah winning sampai lupa bahwa audiens itu bisa jenuh. Skalanya mandek, tiap horizontal scaling malah ada campaign yang rusak, dan landing page-nya panjang banget bukan panjang yang informatif, tapi panjang yang bikin orang capek duluan sebelum baca sampai bawah.
