Muhammad Fadhlillah Rasyid Portfolio
Digital Marketing
Sebagai motor penggerak di balik Ouzenmart, kami membawa brand Colis menembus red-ocean market beauty & skincare wanita di Indonesia. Selama 5 tahun, kami tidak sekadar menjalankan iklan; kami membangun arsitektur full-funnel yang tahan banting mempertahankan ROAS dan menekan CAC bahkan saat dihantam badai perubahan policy Meta Ads maupun pergeseran algoritma platform.
1,47 Miliar
32,7 Miliar
21.73 x

Tantangan
3 IssuesMentok di Platform Lama.
Colis ini tadinya winning product kita di Ouzenmart. Tapi sejak pandemi, habit audiens berubah drastis dan biaya iklan (CPM) di Meta makin mahal. Kita sadar kita nggak bisa terus-terusan bergantung di satu platform kalau mau tetap scale-up.
Perang Harga di TikTok.
Mau nggak mau kita harus ekspansi ke TikTok. Masalahnya, audiens di sana sangat sensitif sama harga (price-sensitive). Kalau kita paksain jualan pakai harga lama, kita pasti kalah saing. Tapi kalau kita asal diskon, margin kita yang hancur.
Biaya Produksi yang Menahan Skalasi.
Waktu itu kemasan Colis masih berbentuk Jar, yang secara modal (COGS) lumayan mahal. Jadi, setiap kali kita mau agresif ngiklan atau ikut flash sale di platform baru, unit economics-nya nggak masuk akal. Iklan jalan, tapi profit tipis.
Strategi
3 AppliedRombak Kemasan demi Potong Modal (COGS).
Solusi utamanya bukan di dashboard Meta atau TikTok, tapi di operasional produk. Kita putuskan ganti kemasan dari Jar ke Pouch. Keputusan ini memangkas biaya produksi secara drastis, ngasih kita ruang nafas buat mainin harga.
Penyesuaian Harga & Paket (Bundle).
Karena modal udah lebih murah berkat kemasan Pouch, kita bisa bikin penawaran harga yang jauh lebih masuk akal buat market TikTok. Kita dorong strategi bundle supaya nilai rata-rata order (AOV) tetap tinggi meski harga per-item turun.
Banting Setir ke Konten Native.
Kita setop pakai video iklan yang terlalu 'kinclong' atau hard-sell. Karena main di TikTok, kita gas produksi konten UGC yang lebih raw dan kerasa kayak review organik. Ini bikin audiens percaya dan biaya konversi (CPA) jadi lebih murah.
Industry
Timeline Project
Fase Akuisisi: Eksekusi & scale-up awal kampanye iklan untuk multi-vertikal produk.
Hyper-Growth: Memimpin scale-up agresif brand Colis hingga menembus omzet Rp 30 Miliar dalam 8 Bulan
Krisis & Pivot: Menyelamatkan sales selama pandemi lewat rekonstruksi funnel & strategi bundle-offer.
Penetrasi TikTok: Adaptasi platform & efisiensi COGS (ubah Jar ke Pouch) untuk memenangkan perang harga.
Tool & Platform






Project Screenshot

Performance Results
Campaign Performance
Spending Chart Meta & Tiktok Ads
Strategi Impact
3 ResultsSales Channel Colis Beaute
Ouzenmart Sales Channel Performance
Related Projects

Strategi Full-Funnel: Skalasi Revenue Berkelanjutan Brand Colusmen
Ouzenmart adalah pemain kunci di industri e-commerce health & beauty, dengan Colusmen sebagai ujung tombak yang mendominasi ceruk male grooming Indonesia. Selama lima tahun, kami merancang dan mengeksekusi sistem pemasaran digital full-funnel yang adaptif terhadap disrupsi platform dan pergeseran perilaku konsumen.

Analisa Bottleneck Funnel Menjaga Profitabilitas Brand Leslim di Meta Ads
Sebagai advertiser di Leslim Store (UMKM fashion wanita), aku memecahkan anomali klasik Meta Ads: omset anjlok tajam di bulan ke-4 padahal Cost Per Lead (CPL) tetap murah. Masalahnya bukan pada algoritma, melainkan ad fatigue dan Landing Page yang gagal mengonversi cold traffic. Studi kasus ini mendokumentasikan caraku membedah kebocoran funnel, memutus ilusi vanity metrics, dan merombak infrastruktur campaign untuk mengembalikan stabilitas profit bisnis.

Bottom-Funnel Recovery untuk Suplemen Herbal Mata
Eyecenter.id masuk ke mejaku dengan masalah yang sebenernya cukup klasik campaign-nya jalan, CPL-nya murah, tapi closing-nya gak kemana-mana. Produknya suplemen herbal untuk mata, target pasarnya ada, dan iklannya udah nemu winning creative. Masalahnya justru di situ: terlalu nyaman sama yang udah winning sampai lupa bahwa audiens itu bisa jenuh. Skalanya mandek, tiap horizontal scaling malah ada campaign yang rusak, dan landing page-nya panjang banget bukan panjang yang informatif, tapi panjang yang bikin orang capek duluan sebelum baca sampai bawah.
