Muhammad Fadhlillah Rasyid Portfolio

Tips & Trik

Target Market atau Target Behaviour? Kita Bedah Faktanya

Muhammad Fadhlillah Rasyid

Published - 19 Juli 2025

Target Market atau Target Behaviour? Kita Bedah Faktanya

Latar Belakang

Pernah gak sih kamu denger orang ngomong, “Kita harus tentuin target market dulu!” dengan nada sok serius kayak lagi rapat bareng direksi? Padahal, kalau ditanya lebih dalam, yang dimaksud “target market” itu sering kali masih kabur banget. Usia 18–35 tahun, domisili Indonesia, suka belanja online. Ya bagus sih… tapi maaf, itu masih terlalu umum. Di dunia nyata, orang umur 25 bisa aja belanja buat diri sendiri, tapi bisa juga belanja buat ibunya. Jadi, yang kamu kejar siapa? Orangnya, atau perilakunya?

Di sinilah muncul pertanyaan besar yang sering bikin marketer garuk kepala: “Kita sebenarnya harus ngincer target market atau target behaviour?” Dua-duanya penting, tapi kalau disuruh milih yang paling “nendang”, jawaban jujurnya adalah: ngerti behaviour jauh lebih menentukan hasil campaign kamu. Karena, bro… manusia itu dinamis. Market bisa luas, tapi perilaku yang ngasih kamu uang itu spesifik banget.

Target Market Itu Penting, Tapi Sering Bikin Kita Kejebak

Jangan salah, saya gak anti target market. Penting banget kok untuk tahu demografi dasar kayak umur, gender, lokasi, dan pendapatan. Tapi masalahnya, banyak yang berhenti di situ. Mereka pikir udah paham audiens cuma gara-gara bisa sebut “target market saya anak muda milenial yang suka ngopi dan traveling.” Lah, semua orang juga suka ngopi sekarang. Bahkan bapak-bapak yang punya warung juga ngopi, bro.

Target market itu ibarat peta kota: kasih arah secara umum. Tapi buat nyampe tujuan, kamu tetap butuh GPS dan GPS-nya di dunia marketing itu ya behaviour. Tanpa itu, kamu bisa nyasar di audience yang kelihatannya cocok, tapi sebenarnya gak punya minat sama sekali buat beli produk kamu.

Contohnya gini: kamu jual skincare cowok. Secara target market, kamu mikir “cowok usia 18–35 tahun.” Tapi secara behaviour, ternyata yang paling sering beli justru... pacarnya. Jadi yang harus kamu bidik bukan si cowoknya, tapi si cewek yang suka beliin hadiah. Nah, di situ bedanya. Kadang yang bayar bukan yang kamu pikirin dari awal.

Behaviour: Senjata Rahasia Marketer yang Gak Banyak Digunakan

Behaviour itu pola tindakan nyata dari audiens kamu mulai dari kebiasaan belanja, waktu aktif di platform, sampai cara mereka ngambil keputusan. Kalau target market itu kayak identitas di KTP, maka behaviour itu kayak kebiasaan sehari-hari. Mana yang lebih bisa kamu manfaatin buat jualan? Ya jelas yang kedua.

Meta Ads, Google Ads, bahkan TikTok Ads udah paham banget soal ini. Makanya algoritma mereka bukan ngincer siapa orangnya, tapi apa yang mereka lakuin. Jadi kalau kamu masih ribet nentuin “market saya wanita karier usia 27 tahun,” sedangkan Meta lagi ngincer “orang yang suka scroll konten skincare lebih dari 3 kali sehari,” tebak siapa yang bakal menang? Ya jelas mesin yang paham behaviour.

Di lapangan, saya sering ketemu marketer yang obses sama target market, tapi buta behaviour. Mereka fokus banget di “targetnya siapa,” tapi gak pernah mikir “targetnya lagi ngapain.” Hasilnya? Campaign-nya nyasar kayak SMS undian palsu. Budget jalan, klik naik, tapi conversion rate kayak sinyal di basement: ngedrop parah.

Ngulik Behaviour Itu Bukan Sekadar Data, Tapi Intuisi

Sering banget orang bilang “ngerti behaviour itu harus pakai data.” Betul, tapi jangan salah kaprah. Data itu cuma alat bantu, bukan penentu. Kalau kamu cuma baca angka tanpa konteks, ya hasilnya kosong. Kamu bisa tahu “orang banyak klik iklan jam 7 malam,” tapi kalau gak paham kenapa mereka klik di jam itu, kamu gak bisa ngulang sukses yang sama.

Behaviour itu tentang membaca pola manusia dan manusia gak sesederhana metrik dashboard. Kadang mereka klik karena penasaran, kadang karena FOMO, kadang karena lagi bete di jalan. Tugas kita sebagai marketer adalah nyari makna di balik angka. Ngerti behaviour itu kayak jadi detektif, bukan tukang hitung.

Kalau kamu ngerti apa yang bikin orang bereaksi, kamu bisa bikin iklan yang nyentuh titik lemah mereka bukan sekadar tampil di depan mata mereka. Dan percayalah, itu perbedaan antara “iklan lewat begitu aja” dan “iklan yang bikin orang berhenti scroll dan beli.”

Gimana Cara Mulai Pahami Behaviour?

Kalau kamu baru mulai belajar baca perilaku audiens, ini beberapa langkah yang bisa kamu lakuin:

  1. Amati pola respon iklan kamu. Lihat jam tayang, jenis konten, dan headline yang paling banyak dapet interaksi. Dari situ kamu bisa tahu kapan audiens kamu paling aktif dan reaktif.
  2. Lihat histori pembelian. Siapa yang beli paling sering? Produk apa yang paling cepat laku? Di situ ada clue tentang perilaku belanja mereka.
  3. Stalking kompetitor dengan niat baik. Lihat iklan mereka, baca kolom komentar, dan pelajari pola engagement-nya. Kadang behaviour bisa kamu pahami dari cara orang lain gagal atau sukses.
  4. Tes dengan curiosity, bukan panik. Uji ide baru, lihat hasilnya, lalu ulangi. Jangan nunggu sempurna dulu baru jalan. Behaviour itu dinamis kamu gak akan bisa ngerti kalau gak terjun langsung.

Dan yang paling penting, jangan cuma “ngeliat data” nikmati proses membacanya. Karena di balik tiap grafik yang naik-turun, selalu ada cerita manusia. Kadang angka yang kamu lihat itu representasi dari emosi, kebiasaan, dan keputusan nyata yang diambil orang-orang di luar sana.

Kesimpulan

Kalau ditanya “lebih penting target market atau target behaviour?”, jawabannya simple: dua-duanya penting, tapi yang menentukan hasil campaign kamu tetap perilaku. Karena market itu luas, tapi behaviour itu presisi. Dan presisi itu yang bikin ads kamu efisien.

Marketing sekarang udah bukan soal “siapa yang kamu target,” tapi “apa yang mereka lakuin sebelum beli.” Kalau kamu bisa baca pola itu, kamu gak cuma jadi marketer kamu jadi psikolog digital yang bisa nebak isi kepala audiens bahkan sebelum mereka sadar butuh produkmu.

Jadi mulai sekarang, jangan cuma nentuin market berdasarkan demografi. Coba gali lebih dalam: apa yang bikin mereka klik, apa yang bikin mereka nunda, dan apa yang bikin mereka akhirnya beli. Karena di dunia digital, yang ngerti perilaku manusia, dialah yang menang. 🧠☕

Populer Tags
Behavioral TargetingConsumer BehaviorMarketing PsychologyAudience ResearchBuyer PersonaAds StrategyConversion Optimization

© 2026 Muhammad Fadhlillah Rasyid. All rights reserved.